BELAJAR MENULIS UNTUK HIDUP

Kita perlu berhenti sejenak dari aktivitas rutin kita. Kita perlu merenung apa yang telah terjadi dalam hidup kita. Tanpa kita sadari, kita akan mendapatkan sebuah kepastian yaitu kematian. Setiap yang hidup pasti akan mati. Mati adalah jenis sunnatullah yang pasti terjadi sejak ribuan tahun yang lalu.

Betapa manusia lahir ke muka bumi tanpa pernah meminta kepada Allah agar menjadi manusia. iya, bukan? Eh, sekarang kita Allah jadikan manusia. Ini nikmat banget. Nikmat yang amat besar yang jarang kita sadari.

Coba bayangkan, andai Allah tidak menjadikan kita sebagai manusia, tentu kita merasa sedih. Iya kan? Bayangkan saja, andai Allah jadikan engkau seekor kera. Apa yang kamu rasakan? Sedih, kan? Iya, pasti sedih berkepanjangan.

Apa nikmatnya jadi kera? Nggak ada nikmatnya sama sekali.

Seekor kera mulai dari makanan, minuman ya gitu gitu aja. Makanan paling enak ya pisang. Minumnya air putih. Pol, sudah bagi seekor kera.

Tapi saat Allah jadikan kita sebagai manusia. Allah karuniakan kita tubuh sehat tanpa sakit. Allah memberi kita rumah sebagai tempat tinggal. Allah memberi kita rezeki sehingga kita bisa beli baju buat menutupi aurat kita.

Maka saat Allah jadikan kita sebagai manusia, harusnya kita bersyukur banget. Bagaimana tidak, dengan kita menjadi manusia kita bisa membangun komunikasi dengan sesama manusia pake bahasa yang keren. Kita bisa berteduh di rumah yang tertutup semua bagiannya dengan pintu dan jendela.

Maka, nikmat Allah yang mana lagi yagn engkau dustakan?

Memaknai Hidup

Memaknai hidup adalah sesuatu yang sangat penting bagi manusia. Hidup adalah kumpulan butir-butir cerita, kisah yang kita tuliskan setiap hari baik penuh kesadaran atau tanpa sadar sekali pun.

Sering kita dengar seorang penceramah bilang begini “Dalam hidup ini kita perlu belajar memaknai hidup”.

hidup manusia layaknya sebuah panggung hiburan. Sebuah permainan. Ya, permainan. Bila kita tidak tau hakekat untuk apa manusia hidup, maka kita akan terjebak pada sesuatu yang tidak penting.

Bahkankah Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan kita bahwa manusia itu tidur tetapi saat mereka mati, mereka terbangun.

Manusia yang sekarang hidup ini, sebenarnrya diantara mereka banyak yang tertidur. Matanya menatap tetapi hati dan nurasinya tidur. Mereka melihat sesuatu yang biasa dan remeh, nampak indah dan berharga dalam pandangan mereka. Dunia, jabatan, harta semua adalah sesuatu yang rendah, hina tapi banyak orang mengejarnya mati-matian hanya untuk bersenang-senang dan menumpuk harta benda.

Tetapi untuk urusan ahirat, ibadah, sedekah mereka malas dan menunda-nunda. Padahal, ahirat dan ibadah adalah kunci selamat dunia hingga ahirat.

Inilah makna manusia tertidur.

Lantas, bagaimanakah cara memaknai hidup itu?

Memaknai hidup harus kita sadari sedini mungkin. Memaknai hidup berarti kita mencoba menghayati, meresapi dan merenungi detik demi detik waktu yang Allah berikan pada kita. Betapa berharga waktu karunia Allah ini.

Banyak orang yang nggak sadar betapa berharga waktu yang Allah berikan kepadanya. Bayangkan saja, andai kita tau betapa berharganya waktu, Kita nggak akan pernah mensia-siakan waktu.

Kita akan mengisi detik demi detik dari waktu dengan sesuatu yagn positif. Sesuatu amalan yang Allah Ridha. Iya kan?

Maka menulis adalah salah satu langkah kita mencari makna hidup. Dengan menulis kita mencari apa yang hidup kita untuk diri sendiri, keluarga, saudara bahkan orang lain.

Tanpa kita sadari, kita sering egois dan lupa diri. Hampir tiap waktu kita kita gunakan hanya untuk memenuhi hasrat pribadi tanpa mau melihat kepentingan orang lain.

Lewat aktifitas menulis ktia mencoba untuk mencari makna hidup kita untuk orang lain. Menulis adalah sebuah aktifitas paling mudah untuk berbagi pengalaman kepada orang lain.

Berbagi lewat buku

Berbagi, sharing atau apa pun namanya adalah kebutuhan pokok manusia. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dalam hidup ini, manusia memerlukan orang lain. Hampir tidak ada orang yang bisa hidup sendiri tanpa membutuhkan orang lain. Iya,kan?

Mulai dari memenuhi kebutuhannya, manusia butuh bantuan orang lain. Ketika butuh makan, tidak semua orang bisa memasak sendiri. Maka orang perlu tukang masak yang siap sedia. Maka hadirlah warung makan dengan segala lauk pauk dan bentuknya.

Kita butuh pakaian, tidak semua kita bisa memintal benang menjadi kain, maka kita butuh petani kapas, tukang pintal dan pabrik kain. Apa kita hanya butuh kain saja? Tidak. Kita masih butuh tukang jahit karena tidak semua orang bisa menjahit dan punya waktu sekedar untuk menjahit pakaiannnya sendiri. Ini contoh sederhana betapa manusai membutuhkan orang lain dalam segala sendi kehidupannya.

Sebenarnya manusia bisa berbagi apapun dengan orang lain sesuai dengan kemampuan, minat dan bakat yang dimilikinya. Mulai dari berbagi pengalaman, berbagi uang, berbagi harta, berbagi pekerjaan sampai berbagi sesuatu yang lebih penting lagi.

Buku termasuk salah satu produk yang lux dan mewah. Buku menjadi produk yang mewah bukan karena harganya yang mahal tetapi karena tidak semua oang bisa mengakses buku. Bayangkan saja, dalam 1 RT saja, berapa banyak orang yang melek literasi dan punya buku di rumah. Bukan berarti tidak ada orang yang bisa membaca buku. Hampir semua orang bisa membaca. Ini berarti setiap orang punya kemampuan untuk membaca buku.

Tetapi karena banyak orang yang tidak sadar betapa besar manfaat dari buku. Buku adalah jendela dunia, sebuah pepatah yang sering kita dengar tapi kenyatananya berapa banyak orang yang suka baca buku? Bertanyalah pada rumput yang bergoyang.

Kunci utama bukan pada kemampuan membaca tetapi pada minat membaca. Seberapa banyak orang yang punya minat membaca lebih? Tidak banyak, kan? Maka beruntunglah kamu yang lagi baca artikel saya ini. Saya doakan semoga kamu jadi orang sukses.

Semua berasal dari penanaman karakter membaca yang kurang tepat. Sejak kecil anak dikenalkan dengan membaca dan menulis. Padahal, mereka belum waktunya mendapat menu baca tulis. Jadilah mereka generasi yang antipati terhadap buku. Sungguh, mengerikan!

Padahal, dalam buku ada harta karun berupa ilmu pengetahuan dan pengelamana orang-orang sukses di bidangnya masing masing.

Maka sejak jaman dulu kala, orang-orang sukses suka berbagi dan sharing pengalaman mereka lewat tulisan yang terkristal menjadi sebuah buku.

Inilah beberapa kelebihan berbagi lewat buku:

  • Lebih awet, nggak mudah menguap
  • Lux dan premium. Nggak banyak orang yang bisa sharing pengalaman lewat buku
  • Manfaatnya lebih abadi, panjang
  • Mudah menyebar

Sebuah buku dangat mudah menyebar manfaatnya untuk banyak orang. Misalnya seseorang membeli buku, membacanya penuh semangat. Buku yang selesai dia baca bisa dipinjamkan teman lainnya berkali kali tanpa takut habis. Iya, kan? Inilah amazingnya sebuah buku yang jarang orang sadari.

Menulis sebuah terapi jiwa

Ternyata, menulis bisa menjadi salah salah bentuk terapi bagi jiwa. Aktifitas menulis bisa jadi terapi jiwa dan kesembuhan. Banyak orang yang mampu dan sukses menulis karya berupa buku karena menjadikan menulis sebagai terapi bagi jiwanya.

Seorang psikolog kenamaan Katharina Amelia Hiarwan mengemukan bahwa menulis adalah sebuah terapi untuk jiwa dan kesehatan. Seorang psikolog dari universitas New South Wales bernama Keren Baikie bilang ketika kita menulis peristiwa atau kejadian yang penuh dengan tekanan akan membuat keadaan jauh lebih baik dari pada menulis sesuatu yang biasa-biasa saja .

Dalam jangka penjang, menulis mampu mengurangi stres, mengurangi tekanan darah, meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi waktu perawatan rumah sakiut, membantu memperbaiki sistem dan fungsi liver dan meningkatkan mood serta mengurangi trauma.

Bila benar menulis adalah salah satu media terapi, lantas menulis di media apa yang tepat?

Tentu bergantung kenyamanan kita masing-masing. Pada era digital ini, tentu kita bisa memanfaatkan gadget dan sosial media untuk menulis dan menumpahkan gagasan dan ide yang ada dalam kepala.

Di era digital ini, banyak media yang bisa kita pakai untuk menulis mulai dari facebook, blog, telegram, dll.

Ada juga orang yang menulis untuk terapi. Setiap manusia pasti punya masalah dalam hidupnya. Sering sekali orang tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan cepat. Maka ini adalah sebuah solusi terbaik bagi kita bagaimana cara memperoleh solusi dari masalah yang sedang kita hadapai.

Banyak orang punya impian dan cita-cita. Dalam mengejar impian dan cita-cita mereka larut dalam rencana, action bertubi tubi. Tanpa terasa mereka jatuh dalam lelah dan capek yang dalam banget.

Memang sih, niat dan semangat masih membadara dalam dada tapi apa boleh buat tubuh butuh istirahat. Maka nggak sedikit orang yang jatuh sakit gara-gara terlalu memforsir diri untuk mencapai goal yang mereka impikan. ahirnya mereka jatuh sakit.

Salah satu solusi bagi mereka agar segera sembuh dan pulih adalah dengan terapi menulis. Ya, menulis mampu memperbaiki sistem tubuh dengan sangat apik.

Menulis untuk keabadian

Menulsi untuk keabadian? Memang bisa? Ya, mungkin kamu ragu dan bertanya-tanya dalam hati, memang bisa ya menulis untuk keabadian?

Bukankah saat seseorang tiba ajalnya tidak bisa diperpanajgn dan di tambah lagi umurnya walau hanya 1 detik? Iya meang beanr. Saat datang malaiakt Izrail yang Allah tufaskan menjemout nyata tidak ada seoangpun yang bisa menangguhkan apalagi memperpanajng umurnya.

Tapi tahukah kamu bahwa yang manusia adalah makhluk spesial. Bagaimana tidak? Allah jadikan manusia dari tanah dan Allah jadikan manusia sebagai khalifah dan pemakmur bumi Allah. Allah angkat dan daulAt manusia sebagai khalifah (pemimpin) di bumi ini merupakan sebuah prestasi luarbiasa.

Ketika ada orang mati dan meninggal dunia, dia tidak akan banyak dikenal oleh orang yang dulu pernah mengenalnya dengan baik.

  • Ketika ada orang meninggal dunia 1 tahun, orang masih mengingat namanya
  • Saat ada orang meninggal 3 tahun, namanya masih sedikit dibicarakan
  • Saat seseorang meninggal 5 tahun, namanya mulai pudar dari pembicaraan orang

Setelah 10 tahun sesorang mati, maka tidak ada lagi orang yang membicarakan namanya apalagi kebaikannya. Bahkan anak cucunya mulai lupa siapa kakek neneknya.

Apa mereka salah? tentu tidak! Keturunan kita tidak salah saat mereka lupa dengan nama dan diri kita.

Tetapi tidak alasan kuat lagi mereka untuk mengenang nama kita . Mereka sebenarnya penasaran siapakah kakek neneknya hingga semua leluhurnya.

Andai boleh ketemu, tentu keturunan kita ingin melihat siapa leluhurnya. Tetapi apa daya semua sudah terhalang oleh yang namanya takdir. Sudah beda alam istilahnya.

Mka salah satu caar termduah agar keturunakita tau dan bsia menginagart diri ktiga ketika ktia sduah tiada adalah denan menulis buku. Buku adalah media t erbauik untuk meninggalkan jejak dan peradaban.

Banyak orang yang bangga karena punya banyak harta, kebun dan kekayaan yang melimpah. Mereka yakin anak keturunannya akan selalu ingat dan mengenangnya karena dia telah meninggalkan warisan yang besar pada mereka.

Tapi kenyataanya, berapa banyak keluarga kaya yang bisa turun temurun bahkan bertahan hingga tujuh turunan? Jarang banget, kan?

Bahkan sering sekali kita temukan, saat orang tua yang kaya raya mati, anak-anaknya berebut harta warisannya. Miris sekali.

Berbeda sekali bila kita bisa mewariskan buku. Buku tidak bakal jadi bahan rebutan anak cucu kita. Sebaliknya mereka akan mengenang kita sebagai orangtuanya yang punya jasa dan karya bermanfaat untuk sesama manusia.

Leave a Comment